Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

POLITIK PENDIDIKAN ISLAM: AMBIGUITAS TAFSIR KEBIJAKAN DI PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM

Abstrak Prioritas pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul merupakan jawaban atas geliat perkembangan Era Revolusi Industri 4.0 yang sedang booming akhir-akhir ini. Peningkatan daya saing bangsa Indonesia melalui jalur pendidikan merupakan argumentasi yang logis dan filosofis, mengingat bonus demografi yang dimiliki Indonesia pada 2020 lebih dari 67% dari populasi masyarakat Indonesia berada di usia produktif. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) menjadi salah satu lokomotif yang dipercaya dapat mengantarkan bonus demografi yang dimilikinya sesuai dengan Rencana Strategis yang dimilki bangsa Indonesia. Peluang ini pun ditangkap dunia pendidikan dengan dikeluarkannya kebijakan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) serta kebijakan-kebijakan strategis yang dikeluarkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dan Kementerian Agama dalam menyongsong pesatnya perkembangan yang ada. Produk kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan

Membumikan Servant Leadership (Kepemimpinan yang berorientasi pada keinginan melayani)

Di antara ciri kedewasaan sikap tampak dari bagaimana kita memperlakukan orang lain. Dalam ilmu manajemen, teori kepemimpinan yang menurut saya berkaitan dengan topik ini adalah  servant leadership . Kepemimpinan yang berorientasi pada keinginan melayani. Ibarat perusahaan, bukan cuma pelanggan saja yang dilayani, bahkan karyawan dan bawahan juga. Dulu saat tinggal di Solo, saya mengalami dan merasakan sendiri praktik nyata  servant leadership  yang membuat saya takjub. Ceritanya, ketika pertama kali tiba di Solo untuk lanjut S2 dan mencari tempat pengabdian, saya bertemu Direktur Pascasarjana IAIN Surakarta Prof. Nashruddin Baidan. Di antara hal yang saya utarakan waktu itu adalah keinginan untuk mengabdi di salah satu pesantren di sana guna memenuhi tugas pascastudi S1 yang dibiayai Kemenag melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB). Beliau lantas merekomendasikan Pesantren Al-Muayyad Windan asuhan Abah Kyai Dian Nafi’. Pertama datang ke sana, saya disambut oleh abah yai, lal

REPRESENTASI MASYARAKAT AKTIF DI MASA PANDEMI COVID-19 (Studi Ekonomi dan Sosial Keberagamaan di Bausasran Danurejan Yogyakarta)

Tujuan dari penelitian ini adalah pertama, menggali respons dan strategi masyarakat Bausasran dalam mengatasi problem ekonomi akibat pandemi Covid-19. Kedua, mengulas protokol ritual keagamaan masyarakat Bausasran pada masa pandemic Covid-19. Adapun metode yang digunakan pada riset ini adalah kualitatif deskriptif.  Pengumpulan data menggunakan dua teknik yaitu observasi dan wawancara, yang mana keduanya dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan pada situasi pandemi.  Berdasarkan hasil riset yang dilakukan, warga Bausasran Yogyakarta mampu mengatasi masalah ketahanan pangan pada kelompok yang rentan secara ekonomi akibat pandemi. Upaya itu dilakukan melalui gerakan berbagi sembako yang dilakukan oleh masyarakat untuk warga yang kehilangan sumber pendapatan selama pandemi. Adapun dana dari berbagi sembako diperoleh dari iuran wajib yang dilakukan warga setiap bulannya melalui pengurus RT dan RW. Kemudian pada aspek sosial keagamaan, pemimpin lokal bersama dengan warga membuat protokol

IMPLEMENTASI KEGIATAN RELIGIUS DALAM MENINGKATKAN AKHLAKUL KARIMAH SISWA DI MADRASAH ALIYAH

A. Pendahuluan Setiap individu dapat memningkatkan akhlak yang baik, karena Allah SWT mewajibkan setiap manusia untuk menghiasi diri dengan akhlak mulia dan menjauhi akhlak yang tercela 1. Terbentuknya akhlak tidak dapat terjadi dengan sendirinya, tetapi dibuthkan usaha pembinaaan. Pembinaan yang harus dilakukan salah satunya dengan menerapkan kebijakan-kebijakan, khususnya di lembaga pendidikan yang mendukung secara maksimal atas upaya pembinaan akhlak. Pendidikan menyajikan program yang mudah dipahami para peserta didik dan menghayati nilai-nilai akhlak mulia yang diajarkan. Fungsi utama pendidikan Islam adalah bagaimana membentuk kepribadian peserta didik. Bahkan Inti dari pendidikan Islam sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad ‘Athiyya al-Abrasiy adalah Akhlak 2. Pendidikan sebagai faktor eksternal terpenting dalam pembinaan akhlak, harus dapat menyajikan program yang tepat, salah satunya adalah kegiatan religus. Sebab, jika kegiatan religius ini sudah meresap ke pribadi, maka akan

Berbaik Sangka Kepada Allah

 BERBAIKSANGKALAH KEPADA TAKDIR NYA Ada seorang tukang TAHU... Setiap hari ia menjual dagangannya ke pasar. Untuk sampai ke pasar, ia harus naik angkot langganannya. Dan untuk sampai ke jalan raya, ia harus melewati pematang sawah. Setiap pagi ia selalu berdoa kepada Allah agar dagangannya laris. Begitulah setiap hari, sebelum berangkat berdoa terlebih dahulu dan pulang sore hari. Dagangannya selalu laris manis... . Suatu hari, ketika ia melewati sawah menuju jalan raya utk naik angkot langganannya, entah kenapa tiba2 ia terpeleset kecemplung sawah...  Semua dagangannya jatuh ke sawah, hancur berantakan! Jangankan untung, modal pun buntung! . Mengeluh ia kepada Alloh, bahkan "menyalahkan" Allah,  mengapa ia diberi cobaan seperti ini? Padahal ia selalu berdoa setiap pagi. Akhirnya ia pun pulang tidak jadi berdagang. Tapi dua jam kemudian ia mendengar kabar, bahwa angkot langganannya yg setiap hari ia naiki, pagi itu jatuh ke dalam jurang.  . Semua penumpangnya tewas! Hanya ia

Tulang Rusuk dan Tulang Punggung Dalam Islam

 SUAMI : KAMU MAU BEKERJA ISTRIKU ? ... _____________________________________ Istri : "Abi, Aku mau kerja!” Suami : “Jangan, lah. Kamu di rumah saja. Istri itu di rumah tugasnya” Istri : “Itu, tetangga kita, dia kerja!” Suami : “Hehe …, Dia itu guru sayaang. Dia dibutuhkan banyak orang. Yang membutuhkan kamu tidak banyak. Hanya Abi dan anak kita. Di rumah saja, yaa !” Istri : “Itu…, tetangga kita yang satunya, yang sekarang sudah pindah ke kampung sebelah, aku lihat dia kerja. Bukan guru. Tidak dibutuhkan banyak orang.” Suami : “Nanti, tunggu Abi meninggal dunia.” Istri : “Apa-apaan sih?” Suami : “Dia itu janda sayaaaang. Suaminya meninggal satu setengah bulan yang lalu. Makanya dia kerja.” Istri : “Tapi kebutuhan kita makin banyak, Abi” Suami : “Kan Abi masih kerja, Abi masih sehat & masih kuat. Akan Abi usahakan, Insyaa Allah.” Istri : “Iya, aku tahu. Tapi penghasilan Abi untuk saat ini tidaklah cukup.” Suami : “Bukannya tidak cukup, tapi belum lebih. Istri : "Kok begit

PRINSIP PRINSIP MENGKAJI AGAMA

 Menuntut ilmu agama tidak cukup bermodal semangat saja. Harus tahu pula rambu-rambu yang telah digariskan syariat. Tujuannya, agar tidak bingung menghadapi seruan dari banyak kelompok dakwah. Yang paling penting, tidak terjatuh kepada pemahaman yang menyimpang! Dewasa ini banyak sekali ‘jalan’ yang ditawarkan untuk mempelajari dinul Islam. Setiap pihak sudah pasti mengklaim jalannya sebagai yang terbaik dan benar. Melalui berbagai cara, mereka berusaha meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Lihatlah sekeliling kita. Ada yang menawarkan jalan dengan memenej kalbunya. Ada yang mengajak untuk ikut hura-hura politik. Ada yang menyeru umat untuk segera mendirikan khilafah. Ada pula yang berkelana dari satu daerah ke daerah lain untuk mengajak manusia ramai-ramai ke masjid. Namun, lihat pula sekeliling kita. Kondisi umat Islam masih begini-begini saja. Kebodohan dan ketidakberdayaan masih menyelimuti. Bahkan, sepertinya makin bertambah parah. Adakah yang salah dari tindakan mereka? Ya, melihat

PERAN GADGET TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

 Ayah dan Bunda, laporan Common Sense Media tahun 2015 menemukan bahwa anak-anak sekarang semakin banyak menghabiskan waktu dengan gadget. Sekitar 4 jam sehari kalau di Amerika sana. Di Indonesia? Bisa lebih, bisa kurang.  Berkaitan dengan pemakaian gadget, seorang psikolog parenting dari Cambridge bernama Catherine Steiner-Adair menemukan bahwa anak-anak menjadi pemarah saat selesai bermain gadget. Mereka juga jadi sering menyela, kurang sabar dan frustasi. Singkatnya: anak-anak yang sering memakai gadget menjadi lebih kasar dan tidak sopan.  Keadaan anak-anak zaman now ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wassalam dulu. Lho, kok dibandingkan? Ya nggak nyambung banget kali!  Ayah dan Bunda, padahal yang sesungguhnya berbeda bukan di zaman sekarang ada gadget dan di zaman Rasul tak ada gadget. Namun perhatian orangtua pada anak.  Orangtua zaman now dan Bunda Rasulullah dulu yaitu Siti Aminah sebenarnya sama-sama menyerahkan putra mereka pada pi